Archive for September 2013
Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal
besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran.
Karena
itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat.
Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja.
Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja.
Sang
Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah
sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita
akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan
menang." Saya akan melakukan tos
dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan
menang. Jika sisi angka yang muncul, kita
akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil
melemparkan kepingnya untuk tos…
Ternyata
sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang
Jenderal, "Hahaha… dewa-dewa di
pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur
balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan
lawan yang berlipat-lipat
banyaknya.
Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita." Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar…
Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri, untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia.
Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif tuk terus memotivasi.
"The most proactive thing we can do is to 'be happy'," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku 7 Habits-nya.
Sumber : e-motivasidiri.blogspot.com
Bahagia itu Pilihan
Suatu pagi tidak jauh dari sebuah pasar, tampak seorang pemuda sedang tidur bermalas-malasan. Kebetulan lewatlah seorang pedagang yang baru menjual dagangannya.
Kata pedagang, "Anak muda, pagi begitu indah. Semua orang sibuk bekerja, tapi mengapa engkau hanya tidur-tiduran di sini?"
Jawab si pemuda, "Aku sedang menunggu kesempatan."
Mendengar jawaban seperti itu, pedagang tampak keheranan. "Apakah kau tahu seperti apa bentuk kesempatan yang kamu tunggu itu?"
Dengan nada malas si pemuda berkata, "Kata orang, aku harus menunggu kesempatan datang, baru kemudian nasibku bisa berubah baik. Lalu aku bisa kaya, bisa sukses, bisa memiliki apa saja yang aku mau. Karena itulah aku dengan sabar menunggu kesempatan datang di sini."
Sang pedagang menggeleng-gelengkan kepalanya, keheranan. "Bentuknya saja kamu tidak tahu, buat apa kamu tunggu? Ayo, lebih baik kamu ikut membantu aku melakukan hal berguna! Kelak nasibmu akan berubah jika kau mau belajar mengikuti jejakku."
"Ah, omong kosong.. Pergi sana! Jangan menggangguku!" bentak si pemuda. Ia kembali bermalas-malasan, dan pedagang itu pun segera pergi karena diusir.
Sesaat kemudian, datang seorang kakek tua menghampiri si pemuda. "Hai ...anak muda. Aku perhatikan, sudah lama kamu tidur-tiduran menunggu kesempatan di tempat ini. Apa kau sudah mendapatkan kesempatan itu?"
“Belum..!”
"Lho, bukankah kesempatan itu baru saja menghampirimu? Mengapa tidak kau tangkap, tapi malah kau usir?” kata kakek tua itu. “Orang yang kau usir tadi adalah seorang pedagang besar dari negeri seberang yang kaya raya. Mengapa tidak kau terima ajakannya..?"
Pemuda itu terkejut. Ia tampak sedih dan ingin menangis.
"Anak muda... Jika kau ingin mendapatkan kesempatan, cari tahu rahasianya. Ketahuilah, kesempatan tidak bisa kau tangkap jika kau tidak mengenalinya,” nasihat si kakek. “Saat kau serius menginginkannya, kesempatan belum tentu datang. Namun saat kau tidak serius, mungkin dia sedang menghampirimu. Saat dia datang tadi, kau tidak mengenalinya. Akhirnya dia lewat begitu saja dan belum tentu akan datang lagi."
Pesan dalam cerita ini:
Kadangkala kesempatan itu pada awalnya tampak sepele sekali. Tapi jangan meremehkan sekecil apa pun kesempatan itu. Seringkali pencapaian besar justru diawali dari kesempatan-kesempatan kecil, yang umumnya dilewatkan banyak orang.
Sumber : Andriewongso.com
Menunggu Kesempatan
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
Jika beliau masih ada, jangan lupa memberikan kasih sayangmu lebih dari yang pernah kau berikan selama ini dan jika beliau sudah tiada, ingatlah kasih sayang dan cintanya yang tulus tanpa syarat kepadamu.
Sumber : google
Love is Mom
Bila kita menganggap masalah sebagai beban, kita mungkin akan menghindarinya. Bila kita menganggap masalah sebagai tantangan, kita mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat kita terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, kita melihat keberhasilan dibalik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses.
Tanpa masalah, kita tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku! Sesaat kemudian, bukan kematian yang kita terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.
Source : Google.com
Masalah adalah Hadiah
Sebelum kita kumpul di taman Alumni, kita diwajibkan
untuk kumpul di fakultas masing-masing kemudian kita berangkat ke taman Alumni
bersama-sama. Hari pertama Gerigi diisi oleh pembukaan dari rektor ITS dan
Presiden BEM ITS hingga sore hari kemudian kita dikumpulkan di tempat
masing-masing komunal untuk mendiskusikan apa saja barang-barang yang harus di bawa
esok hari, salah satunya yaitu ubi kuning. Malam harinya, teman-teman yang lagi
ngekost bingung untuk mencari ubi karena agak sulit untuk mencarinya tapi kita
semua saling membantu satu sama lain untuk mencarikan ubi tersebut dari situ
kita mendapatkan satu pelajaran untuk saling membantu. Hari kedua kita
mengikuti materi yang dibawakan oleh kakak-kakak senior mengenai semua yang ada
di ITS mulai dari Peran Fungsi Mahasiswa yaitu sebagai Agent of Change, Social
Control, Iron Stock dan Moral Force hingga mengenai Keilmiahan. Kemudian kita
dituntut untuk dapat menjelasakan apa yang tadi dijelaskan. Hari ke tiga, kita
melakukan show off untuk masing-masing kelompok dan mempersiapkan show off
untuk antar komunal. Ada yang menampilkan drama, paduan suara, tarian, yel-yel
dan lain-lain. Kelompokku sendiri menampilkan paduan suara dan menyanyikan lagu
indonesia pusaka serta lagu Kebyar-Kebyar, kami menyanyikan lagu itu dengan
semangat dan penuh penghayatan walaupun di dalam internal kelompok kami ada
sedikit konflik. Setelah semuanya selesai menampilkan masing-masing ketrampilan
kelompok mereka, kita diberangkatkan menuju taman Alumni untuk adu show off
antar komunal. Di sepanjang jalan, kami menyapa komunal lain dan meneriakkan
yel-yel kami dengan penuh semangat. Setelah sampai di taman Alumni, kami di
tunjuk untuk menampilkan show off komunal kami untuk pertama kali. Kami
menampilkan tarian yang pernah booming beberapa
bulan yang lalu yaitu harlem shake
dan goyang caesar, setelah itu dilanjutkan oleh show off komunal lain. Kita
juga mengikuti acara simulasi total yaitu dengan cara menyusun kaleng-kaleng
susu untuk membentuk simbol dan tulisan Gerigi ITS 2013 serta banyak juga
teman-teman yang berebutan untuk menyusun kaleng-kaleng tersebut. Setelah acara
simulasi total selesai, dilanjutkan pidato yang disampaikan oleh Presiden BEM
ITS untuk menyemangati agar kami dapat selalu berprestasi dalam segala bidang
serta pidato oleh Ketua Ikatan Alumni ITS. Setelah itu, Gerigi ITS 2013 ditutup
oleh Ketua Ikatan Alumni ITS. Banyak sekali kesan dan kenangan yang dapat kami
peroleh dari acara tersebut, mulai dari kerja sama, kekompakkan, rasa tanggung
jawab, dan masih banyak lagi. Sebenarnya kami sedih karena harus berpisah
dengan teman-teman kami tetapi kami berjanji untuk tetap menjalin tali
silaturrahim dan tidak lupa untuk saling menyapa jika kita bertemu.






